Senin, 08 Agustus 2011

Skripsi tentang: Pembelajaran Muhadatsah dan Permasalahannya


BAB I
PENDAHULUAN

A.    KONTEKS PENELITIAN
Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk mengkomunikasikan suatu gagasan kepada orang lain. Setiap gagasan yang dihasilkan seseorang tidak akan diketahui oleh khalayak manakala tidak dikomunikasikan melalui bahasa.
Bahasa juga tidak saja sebagai alat komunikasi untuk mengantarkan proses hubungan antar manusia, tetapi bahasa juga merupakan salah satu aspek terpenting dari kehidupan manusia. Sekelompok manusia atau bangsa yang hidup dalam kurun waktu tertentu tidak akan bisa bertahan jika dalam bangsa tersebut tidak ada bahasa. Kearifan Melayu mengatakan : “Bahasa adalah cermin budaya bangsa, hilang budaya, maka hilang bangsa”. Jadi, bahasa adalah sine qua non, suatu yang mesti ada bagi kebudayaan dan masyarakat manusia.[1] 
1
 
Manusia adalah makhluk sosial dan tindakan paling pertama dan paling penting adalah tindakan sosial, suatu tindakan tempat saling menukar pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan, atau saling mengekspresikan serta menyetujui suatu pendirian atau keyakinan. Oleh karena itu, maka di dalam tindakan sosial haruslah terdapat elemen-elemen yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang yang merupakan masyarakat. Untuk menghubungkan sesama anggota masyarakat maka diperlukanlah komunikasi, yaitu melalui bahasa.[2]
Bahasa Arab sebagai bahasa dunia Islam  memiliki banyak keistimewaan. Keistimewaan bahasa ini tercermin dalam beberapa hal. Pertama, Bahasa Arab memiliki banyak kosa kata sekaligus banyak makna. Hal ini karena bahasa Arab memiliki lingkungan yang luas, yaitu mencakup lima benua dan terdapat berbagai kamus. Kedua, Bahasa Arab memiliki sejarah panjang dan telah mengakar dalam sebuah peradaban dunia. Ketiga, munculnya madrasah – madrasah bahasa Arab yang telah melakukan pembentukan cabang – cabang ilmu kebahasaan yang berbeda – beda seperti Nahwu, Sharf, Fiqh al-Lughah dan terbitnya kamus – kamus bahasa Arab yang lengkap. Keempat, panjangnya masa peradaban Arab sehingga lahir berbagai  karya penerjemahan dan makna kosa kata baru.
Pembelajaran bahasa Arab sudah memiliki sejarah panjang di negeri ini. Bahasa Arab sebagai bahasa Islam dan kaum muslim mulai diajarkan di berbagai forum pengajian seperti surau dan pesantren seiring masuknya Islam ke Indonesia. Bahkan, pengaruh bahasa Arab sangat kuat jika ditinjau dari beberapa kosa kata bahasa Indonesia berupa kata serapan dari bahasa Arab. Konteks pembelajaran bahasa Arab sekarang begitu luas. Tujuan pembelajarannyapun beragam mulai dari tujuan untuk kajian dasar – dasar keIslaman, tujuan pengembangan khususnya di negara – negara Timur Tengah yang kaya  minyak, tujuan politik seperti hubungan multilateral antar negara seiring perkembangan interaksi Indonesia dengan dunia Timur Tengah yang semakin meningkat. Pembelajaran bahasa Arab sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional.[3]
Kemampuan berkomunikasi merujuk kepada kemampuan seseorang menggunakan bahasa untuk interaksi sosial dan komunikatif, yaitu mengetahui kapan saat yang tepat membuka percakapan dan bagaimana, topik apa yang sesuai untuk situasi dan peristiwa ujaran tertentu, bentuk  sebutan mana yang harus digunakan, kepada siapa dan dalam situasi apa, serta bagaimana menyampaikan, menafsirkan, dan merespon tindak ujaran seperti salam, pujian, permintaan maaf, undangan dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan kemampuan berkomunikasi (kompetensi komunikatif) Savigon (1972) menjabarkan karaktistiknya sebagai berikut :
  1. Kompetensi komunikatif merupakan konsep yang agak dinamis ketimbang statis dan bergantung kepada negosiasi makna antara dua orang atau lebih yang memiliki beberapa pengetahuan yang sama. “ Dalam makna ini, kompetensi komunikatif dapat dikatakan sebagai sifat interpersonal dari pada intrapersonal”.
  2. Kompetensi komunikatif tidak boleh dipandang hanya sebagai fenomena lisan, ia juga berlaku bagi bahasa tulis dan lisan.
  3. Kompetensi komunikatif bersifat contex-specific. Artinya, komunikasi selalu berlangsung dalam situasi atau konteks tertentu. Pengguna bahasa yang secara komunikatif  kompeten akan tahu bagaimana membuat pilihan yang tepat dalam register dan gaya sesuai dengan situasi tempat komunikasi terjadi.
  4. Perlu diingat tentang perbedaan teoritis antara kompetensi dan performansi. “Kompetensi adalah apa yang orang ketahui. Performansi adalah apa yang orang lakukan. Bagaimanapun, hanya  performansi yang teramati, dan hanya melalui performansi maka kompetensi dapat dikembangkan, dipertahankan, dan dievaluasi.”
  5. Kompetensi komunikatif bersifat relative dan bergantung kapada semua yang terlibat. [4]
Pada umumnya upaya pengembangan bahasa Arab melalui pendekatan komunikatif (Muhadatsah), sering dijumpai di pondok-pondok pesantren yang bahasa Arab bukan saja untuk memahami kitab-kitab atau buku-buku berbahasa Arab, akan tetapi jauh dari pada itu yaitu bagaimana berusaha dalam upaya pembinaan dan pengembangan serta memasyarakatkan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari baik santriwati dengan santriwati ataupun santriwati dengan ustaz/ustazah.
Pondok pesantren al-Halimy khususnya pondok putri, sebagaimana pondok – pondok lainnya berusaha untuk ikut serta dalam mengembangkan bahasa Arab. Hal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bahasa Arab dijadikan sebagai alat komunikasi dalam interaksi antar sesamanya. Pondok pesantren al-Halimy (Pondok Putri) merupakan salah satu pondok pesantren yang menekankan kepada semua santriwatinya untuk selalu bermuhadatsah (berkomunikasi) dengan menggunakan bahasa Arab karena diyakini bahwa pembelajaran muhadatsah dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab santriwati.

B.     FOKUS PENELITIAN
  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut :
a.       Bagaimanakah Pelaksanaan Pembelajaran Muhadatsah Di Pondok Putri al-Halimy Sesela LOBAR?.
b.       Apa Saja Kendala-Kendala Yang Dihadapi Santriwati Pondok Putri al-Halimy dan Apa Saja Solusinya Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Muhadatsah?.

  1. Tujuan Penelitian
Dalam setiap penelitian pasti dilandasi oleh suatu tujuan. Dengan adanya tujuan yang sudah direncanakan akan dapat membangkitkan motivasi serta minat dalam melaksanakan penelitian dengan sungguh-sungguh.
Adapun tujuan penelitian ini sebagaimana rumusan masalah yang penulis paparkan di atas adalah sebagai berikut :
a.       Ingin Mengetahui Pelaksanaan Pembelajaran Muhadatsah Di Pondok Putri al-Halimy Sesela  LOBAR.
b.      Ingin Mengetahui Kendala-Kendala Yang Dihadapi Santriwati Pondok Putri Al-Halimy Dan Solusinya Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Muhadatsah.

C.    MANFAAT PENELITIAN
Dari penelitian ini, karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat baik bagi peneliti sendiri ataupun orang lain. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Manfaat yang bersifat teoritis diharapkan dari penelitian ini dapat menambah khazanah-khazanah ilmu pengetahuan agama dalam bidang pembelajaran bahasa Arab guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan santriwati dalam berkomunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa Arab khususnya di lingkungan pondok putri al-Halimy.
2.      Manfaat secara praktis yaitu antara lain :
a.       Sebagai dasar untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran muhadatsah dan  berbagai permasalahan yang dihadapi para guru (ustaz/ustazah).
b.      Untuk dapat dijadikan informasi bagi para guru bahasa Arab (ustaz/ustazah) agar senantiasa mengarahkan santri/santriwatinya untuk terus menerus menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi dalam interaksi antar sesamanya dalam kehidupan sehari-hari.
D.    SETTING PENELITIAN
Pada penelitian ini peneliti memilih pondok putri Pondok Pesantren al-Halimy sebagai tempat penelitian.
Adapun pemilihan pondok putri al-Halimy sebagai lokasi penelitian didasarkan pada beberapa alasan diantaranya :
  1. Pondok pesantren al-Halimy (pondok putri) adalah salah satu pondok pesantren yang memiliki cirikhas santriwatinya selalu menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam komunikasi mereka sehari-hari, selain cirikhas tersebut pondok pesantren al-Halimy (pondok putri) juga terkenal dengan qowaidnya (nahu/sorfnya).
  2. Pondok putri al-Halimy adalah salah satu pondok pesantren yang menerapkan pembelajaran muhadatsah, dan menuntut santriwatinya di dalam berkomunikasi selalu menggunakan bahasa Arab ( muhadatsah ). Dengan demikian kondisi tersebut sangat relevan dengan tema dan tujuan penelitian.

E.     TELAAH PUSTAKA
Telaah pustaka merupakan salah satu cara penyaduran terhadap studi-studi atau karya terdahulu yang terkait untuk menghindari duplikasi, plagiasi, repiksi, serta menjamin keaslian dan keabsahan penelitian yang dilakukan. Berdasarkan definisi tersebut dalam usaha penelusuran yang peneliti lakukan, peneliti mendapatkan hasil penelitian sebelumnya. Sekalipun penelitian yang dilakukan di sini intinya sama yaitu untuk meningkatkan kemampuan siswa/siswi atau santriwan/santriwati dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab akan tetapi penelitian tersebut memiliki perbedaan-perbedaan untuk membuktikan tidak adanya duplikasi dari penelitian-penelitian yang sudah ada.
1.      Mukhlis, Upaya Pengembangan Pengajaran Bahasa Arab sebagai bahasa Komunikasi Sehari-hari Pada Santri Di Pondok Pesantren Al-Halimy Sesela Gunung Sari, jurusan tarbiyah. Program studi Pendidikan Bahasa Arab, STAIN Mataram tahun 2003
Dalam skripsi ini, Mukhlis membahas tentang Upaya pengembangan pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari pada santri di pondok pesantren al-Halimy Sesela Gunung Sari, berdasarkan hasil penelitiannya Mukhlis memaparkan bahwa pelaksanaan pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi di pondok pesantren al-Halimy terbagi menjadi dua bagian, yaitu pelaksanaan pengajaran yang mengacu pada kurikulum Nasional dan pelaksanaan pengajaran yang megacu pada kurikulum lokal (program pondok), dalam penelitiannya Mukhlis melihat bagaimana pelaksanaan pengajaran bahasa Arab yang mengacu pada dua kurikulum tersebut, yaitu di sekolah dan di pondok, dan Mukhlis membahas upaya apa saja yang bisa dilakukan untuk mengembangkan pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari santri, Mukhlis lebih menekankan pada upaya-upaya yang dilakukan, sementara bedanya dengan peneliti di sini adalah peneliti hanya memfokuskan pada kurikulum pondok saja (program pondok), tidak melihat bagaimana pelaksanaannya di sekolah, peneliti juga membahas bagaimana proses pembelajarannya, dalam penelitian tersebut sudah termasuk  upaya-upaya atau streteginya.
2.      Junaidi, Pengaruh Metode Hiwar  Terhadap Keterampilan Berkomunikasi Bahasa Arab Bagi Siswa Madrasah Aliyah Darul Muhajirin Praya Lombok Tengah, jurusan tarbiyah, program studi Pendidikan Bahasa Arab, STAIN Mataram tahun 2003.
Dalam skripsi ini, Junaidi meneliti bagaimana pengaruh metode hiwar tersebut terhadap kemampuan berkomunikasi siswa Madrasah Aliyah Darul  Muhajirin dengan menggunakan bahasa Arab, di sini Junaidi menyimpulkan bahwa metode hiwar yang dilakukan secara intensif ternyata membawa pengaruh positif terhadap kemampuan siswa-siswinya dalam berkomunikasi bahasa Arab. Bedanya dengan peneliti adalah dalam penelitian ini peneliti melihat bagaimana pelaksanaan pembelajaran muhadatsah, peneliti menekankan bagaimana proses pelaksanaan pembelajarannya dan meneliti apa saja kendala-kendala yang dihadapi guru dan santriwati tentunya mencari solusi dari kendala-kendala tersebut, tidak meneliti pengaruhnya. Perbedaan yang lain adalah Junaidi melakukan penelitiannya di Sekolah sementara peneliti melakukan penelitian di Pondok, tidak bisa dipungkri bahwa penelitian terhadap komunikasi bahasa Arab siswa/siswi lebih efektif di pondok karena di pondok santri di kontrol selama 24 jam, sementara di sekolah hanya beberapa jam saja.
3.      Suhaidi, Strategi Pengembangan Pengajaran Bahasa Arab Seagai Bahasa Komunikasi Sehari-hari di MAKN Mataram, jurusan terbiyah, program studi Pendidikan Bahasa Arab tahun 2001 STAIN Mataram.
Dalam penelitiannya Suhaidi membahas tentang apa saja strategi yang dipergunakan dalam pengembangan pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi di MAKN Mataram, Junaidi fokus terhadap strategi yang akan dilakukan dalam pengembangan pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, bedanya dengan peneliti adalah peneliti secara umum memaparkan atau membahas proses pelaksanaan pembelajaran muhadatsah (komunikasi bahasa Arab), di dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut sudah termasuk bagian-bagian dari proses pelaksanaan pembelajaran, baik itu strategi/metodenya, medianya dan lain sebagainya yang termasuk bagian dari proses tersebut. 

F.     KERANGKA TEORITIK
1.      Pondok Pesantren
a.      Pengertian  Pondok pesantren
Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikan lainnya yang sejenis. Para peserta didik di pesantren disebut santri yang umumnya menetap di pesantren. Tempat di mana para santri menetap, di lingkungan pesantren disebut pondok. Dari sinilah timbul istilah pondok pesantren.
Ditinjau dari segi historisnya, pondok pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Pondok pesantren sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sejak Islam masuk ke Indonesia terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan pada umumnya.
Sebuah lembaga yang bernama pondok pesantren adalah suatu komunitas tersendiri, di dalamnya hidup bersama-sama sejumlah orang yang dengan komitmen hati dan keikhlasan atau kerelaan mengikat diri dengan kiyai, tuan guru, buya, ajengan, abu atau nama lainnya, untuk hidup bersama dengan standard moral tertentu, membentuk kultur atau budaya tersendiri. Sebuah komunitas disebut pondok pesantren minimal ada kiyai (tuan guru, buya, ajengan, abu), masjid, asrama (pondok), pengajian kitab kuning atau naskah salaf tentang ilmu-ilmu keIslaman. Dalam perkembangan selanjutnya, karena dipengaruhi oleh perkembangan pendidikan dan tuntutan dinamika masyarakat tersebut, beberapa pondok pesantren menyelenggarakan pendidikan jalur sekolah (formal).[5]
b.      Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren
Dalam perkembangannya, keinginan untuk lebih memperdalam ilmu-ilmu agama telah mendorong tumbuhnya pesantren yang merupakan tempat untuk melanjutkan belajar agama setelah tempat belajar di surau, langgar atau masjid. Model pendidikan pesantren ini berkembang di seluruh Indonesia, dengan nama dan corak yang sangat bervariasi. Di Jawa disebut pondok atau pesantren, di Aceh dikenal dengan rangkang, di Sumatra Barat dikenal surau. Nama yang sekarang diterima umum adalah pondok pesantren.
Sejarah pendidikan Islam di Indonesia mencatat, bahwa pondok pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Ada dua pendapat mengenai awal berdirinya pondok pesantren di Indonesia. Pendapat pertama menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri dan pendapat kedua mengatakan bahwa sistem pendidikan model pondok pesantren adalah asli Indonesia.[6]
Pondok pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaan dan perkembangannya setelah abad ke 16. Karya-karya Jawa klasik seperti serat cabolek dan serat centini mengungkapkan dijumpai lembaga-lembaga yang mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fiqh, tasawuf, dan menjadi pusat-pusat penyiaran Islam yaitu pondok pesantren.[7]
Sejarah awal pertumbuhannya, tujuan utama pondok pesantren adalah
1)      Menyiapkan santri mendalami dan menguasai ilmu agama Islam atau lebih dikenal dengan tafaqquh fiddin, yang diharapkan dapat mencetak kader-kader ulama dan turut mencerdaskan masyarakat Indonesia,
2)      Dakwah menyebarkan agama Islam
3)      Benteng pertahanan umat Islam dalam bidang akhlak
Selama kurun waktu yang sangat panjang pondok pesantren telah memperkenalkan dan menerapkan beberapa metode pembelajaran seperti wetonan, sorogan, tahfidz (hafalan), mudzakarah (musyawarah), halaqah (seminar), dan majlis ta’lim.[8]

2.      Pengertian Keterampilan Muhadatsah (Berbicara Bahasa Arab) 
Kemahiran berbicara merupakan salah satu jenis kemampuan bahasa yang ingin dicapai dalam pembelajaran bahasa modern  termasuk bahasa Arab. Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Berbicara identik dengan penggunaan bahasa secara lisan.
Penggunaan bahasa secara lisan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
a.       Pelafalan
b.      Intonasi
c.       Pilihan kata
d.      Struktur kata dan kalimat
e.       Sistimatika pembicaraan
f.       Isi pembicaraan
g.      Cara memulai dan mengakhiri pembicaraan
h.      Penampilan (gerak-gerik,penguasaan diri dan lain-lain)
Berbicara adalah kegiatan berbahasa yang aktif dari segala pemakai bahasa, yang menurut prakarsa nota dalam pengumuman bahasa untuk mengungkapkan diri secara lisan.[9]
Jadi, berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian, komunikasi timbal balik dengan menggunakan bahasa sebagai medianya dan dilakukan secara lisan. Dengan berbicara seseorang berusaha untuk mengungkapkan pikiran dan perasaanya dengan orang lain secara lisan. Tanpa usaha untuk mengungkapkan dirinya orang lain tidak akan mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakanya. Tanpa berbicara seseorang akan mengucilkan diri sendiri, dan terkucil dari orang lain di sekitarnya. Berbicara merupakan bagian dari kemampuan berbahasa yang aktif – produktif.
Kemampuan berbicara menurut penguasaan terhadap beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa. Secara kebiasaan, pesan lisan yang disampaikan dengan berbicara merupakan penggunaan kata-kata yang dipilih sesuai dengan maksud yang perlu diungkapkan. Kata – kata itu dirangkai dalam susunan tertentu menurut kaidah tata bahasa, dan dilafalkan sesuai kaidah pelafalan pula.
Kemampuan berbicara bahasa Arab adalah keterampilan penyampaian pesan secara lisan dengan menggunakan bahasa Arab sebagai medianya, dengan tidak mengabaikan kaidah penggunaan bahasa sehingga apa yang disampaikan dapat dengan mudah dimengerti oleh lawan bicara atau penerima pesan.[10]

3.      Pentingnya Mempelajari Keterampilan Muhadatsah (Berbicara Bahasa   Arab)
Mempelajari suatu bahasa pada umumnya bertujuan untuk memahami bahasa itu sendiri. Pembelajaran bahasa yang dimaksudkan di sini adalah bahasa menurut linguistik, bukan bahasa tulisan tetapi sebagai bahasa ujaran (lisan). Karena semua orang di dunia sebelum bisa menulis sudah bisa berbicara, walau masih buta huruf  dan terbelakang. Hal ini berarti bahwa bahasa lisan merupakan gambaran bahasa yang paling sempurna, karena pada bahasa tersebut terdapat mimik, tekanan, jungtur, prosadi dan seterusnya. Obyek penyelidikan ilmu bahasa itu ialah bahasa lisan, bukan bahasa tulisan. [11]
Linguis berkata bahwa “speaking is language”. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Ujaran sebagai suatu cara berkomunikasi sangat mempengaruhi kehidupan-kehidupan individual manusia. Dalam sistem inilah manusia saling bertukar pendapat, perasaan, dan keinginan. Dan sistem inilah yang memberi keefektifan bagi individu dalam mendirikan hubungan mental dan emosional dengan anggota-anggota lainnya. Agaknya tidak perlu disangsikan lagi bahwa betapa besarnya peranan bahasa dan komunikasi dalam kehidupan manusia.[12]
Muhadatsah (bercakap-cakap) merupakan hal yang penting dan utama  untuk dapat menguasai bahasa Arab dengan cepat dan mudah. Untuk dapat menguasai bahasa Arab tentu tidak semudah membalik telapak tangan, akan tetapi membutuhkan waktu yang panjang dengan melalui proses latihan-latihan yang kontinu baik latihan ucapan ataupun latihan pengutaraan pikiran secara lisan.

4.      Pelaksanaan Pembelajaran Keterampilan Muhadatsah (Berbicara Bahasa Arab)
Dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan muhadatsah tentu harus memperhatikan beberapa hal di antaranya :
a.       Metode pembelajaran muhadatsah
Berdasarkan penjelasan di atas, pembelajaran muhadatsah memiliki tahapan yang perlu diperhatikan sehingga kemampuan bercakap santriwati secara perlahan mampu dicapai. Tahapan di atas memerlukan metode yang tepat sehingga arah dan tujuan yang dicapai terlaksana dengan baik. Ada beberapa metode pembelajaran kemampuan bercakap dengan tetap memperhatikan jenjang kemampuan santriwati.
1)      Latihan asosiasi dan identifikasi
Latihan ini dimaksudkan untuk melatih spontanitas siswa dan kecepatannya dalam mengindetifikasi dan mengasosiasikan   makna ujaran yang didengarnya. Bentuk latihan antara lain :
a)      Guru menyebut satu kata, siswa menyebut kata lain yang ada hubungannya dengan kata tersebut.
b)      Guru menyebut satu kata, siswa menyebut kata lain yang tidak ada hubungannya dengan kata tersebut.
c)      Guru menyebut satu kata kerja (fi’il), siswa menyebut pelaku yang cocok
2)      Latihan percakapan
   Banyak teknik dan model latihan percakapan yang telah  dikembangkan oleh pengajar bahasa. Setiap pendekatan yang telah dikembangkan oleh pengajar bahasa. Setiap pendekatan dan metode memberikan penekanan kepada teknik atau metode tertentu.
Ada beberapa model-model latihan percakapan sebagai berikut :
a)      Tanya jawab.
Guru mengajukan satu pertanyaan, siswa satu  menjawab dengan satu kalimat, kemudian siswa satu  bertanya dan siswa dua menjawab, kemudian siswa dua bertanya dan siswa tiga menjawab dan seterusnya.
b)      Menghafalkan model dialog.
Guru memberikan satu model dialog secara tertulis untuk dihafalkan oleh siswa di rumah masing-masing. Pada minggu berikutnya secara berpasangan mereka diminta tampil di muka kelas untuk memperagakan dialog tersebut, tetapi mendramatisasikannya dengan memperhatikan segi-segi ekspresi, mimikl, gerak-gerik, intonasi.
Dialog-dialog tersebut harus disesuaikan dengan tingkat kemahiran siswa dan harus bersifat situasional yang materinya diambil dari kehidupan sehari-hari, misalnya rumah, sekolah,  pasar, sawah dan sebagainya.
c)      Percakapan terpimpin
Langkah yang ditempuh di dalam pengajaran percakapan di sini adalah guru menentukan situasi atau konteksnya. Siswa diharapkan mengembangkan imajinasinya sendiri dalam percakapan dengan lawan bicaranya sesuai dengan munasabah yang telah ditentukan. Apabila murid diberi kesempatan untuk mempersiapkannya di rumah, maka sebaiknya tidak ditetapkan terlebih dahulu. Hal ini untuk menghindari kemungkinan siswa mempersiapkan dialog secara tertulis dan kemudian menghafalkannya.
d)     Percakapan bebas
Metode yang dilakukan dalam tahapan ini adalah guru hanya menetapkan topik pembicaraan. Siswa diberi kesempatan melakukan percakapan mengenai topik tersebut secara bebas. Guru membuat beberapa kelompok siswa dan melakukan pengawasan terhadap masing-masing kelompok. Guru juga memberi perhatian khusus untuk beberapa siswa yang kurang mampu dan kelompok yang kurang bersemangat.
b.      Pembelajaran Muhadatsah Berbasis PAIKEM
 Penciptaan suasana dan kondisi belajar bahasa dan menyenangkan merupakan salah satu kunci keberhasilan pembelajaran bahasa. Hal ini juga termasuk pembelajaran bahasa Arab apabila selama ini bahasa Arab sering dianggap “momok menyeramkan” oleh peserta didik. Anggapan ini tidak bisa dipersalahkan karena pembelajaran bahasa Arab yang disuguhkan dalam keadaan monoton, menegangkan dan pasif. Peserta didik akhirnya menganggap mata pelajaran bahasa Arab sebagai beban karena materi didominasi hafalan kosa kata dan tata bahasa. Oleh karena itu, perlu ada perubahan dalam paradigma pembelajaran bahasa Arab. Berdasarkan penjelasan di atas, pembelajaran muhadatsah berbasis PAIKEM sangat penting untuk diaplikasikan. Hal ini karena pendekatan PAIKEM meningkatkan kemauan siswa untuk berbicara dengan aktif, inovatif dan kreatif. Pendekatan ini sangat menunjang bagaimana sikap siswa untuk tidak takut salah atau minder dalam bercakap. Salah satu teknik yang tepat untuk diaplikasikan dengan pendekatan ini adalah field study. Tujuan teknik ini adalah memadukan pengalaman yang diperoleh di dalam kelas dengan pengalaman yang aktual di lapangan. Selain itu, kondisi sekolah dan potensi yang ada di sekolah sangat menunjang kemauan dan kemampuan para siswa untuk berbicara. Sebagai contoh jika di sekolah terdapat kantin sekolah, maka kantin sekolah bisa menjadi sumber percakapan tentang  fi waktil istirohah. Para siswa dilatih untuk mampu bercakap tentang aktifitas di waktu istirahat sekaligus tentang jual-beli. Pembelajaran muhadatsah menuntut peran aktif semua pihak jika ingin ketuntasan belajar tercapai. Pembelajaran yang menyenangkan dan inovatif makin membuat semangat serta rasa keingintahuan terhadap keluasan bahasa ini semakin bertambah. Pembiasaan bercakap secara spontanitas bisa tumbuh manakala peserta didik mengalami kenyamanan dalam menggunakan bahasa ini. Walaupun pendekatan PAIKEM menuntut kemampuan yang ekstra bagi seorang guru tetapi sangat urgen bagi pembelajaran muhadatsah demi kemampuan bercakap itu tercapai.


5.      Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Pembelajaran Muhadatsah (Berbicara Bahasa Arab)
Ada beberapa problem yang muncul dalam pembelajaran percakapan bahasa Arab di pondok ini. Problematika pembelajaran ini muncul dari sisi santriwati karena latar belakang santriwati dan kemampuan dasar yang bermacam-macam, dari sisi guru pengampu, media pembelajaran dan lingkungan kebahasaan. Penelitian tentang pembelajaran muhadatsah  di pondok putri al-Halimy perlu dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran muhadatsah bahasa Arab sebagai bahasa dunia islam dan bahasa internasional.
Mempelajari bahasa asing akan lebih sulit dipahami dari pada bahasa ibu (Bahasa sendiri) karena selain kosa kata yang jarang digunakan, struktur kata dan kalimatpun memerlukan waktu khusus untuk dipelajari. Oleh sebab itu, pelajaran bahasa asing dalam lembaga formal dan informal memerlukan metode pengajaran yang tepat sesuai dengan tujuan umum pengajaran bahasa itu sendiri .
Bahasa Arab adalah merupakan  salah satu  bahasa Asing (Luar bahasa pribumi) yang penyebarannya sudah banyak ditemukan dibeberapa Daerah dan Negara. Proses penyebaran bahasa Arab di berbagai Negara adalah pengaruh dari perkembangan Agama Islam yang mana sumber ajaran Agama Islam (al-Qur’an dan as-Sunnah) menggunakan bahasa Arab.
Dalam mempelajari bahasa Arab sebagai alat komunikasi akan lebih sulit dirasakan oleh semua pelajar karena beberapa alasan :
1)      Kurangnya kemampuan santriwati dalam menguasai kosa kata (Bahasa keseharian) dengan Bahasa Resmi (Komunikasi formal), walaupun sumber bacaan cukup memadai untuk memudahkan murid menguasai kosa kata Bahasa Arab.
2)      Kurangnya minat serta rasa cinta santriwati terhadap bahasa Arab
3)      Terbatasnya guru profesional pada bidang sutdi bahasa Arab khususnya dalam pembelajaran muhadatsah
4)      Orientasi pembelajaran bahasa hanya untuk mengenali kaidah Bahasa (Nahwu Sharaf, Ilmu Bhalagah, Ilmu Manteq) sehingga santriwati dituntut untuk menguasai konsep kebahasaan daripada praktek mengkomunikasikan bahasa itu sendiri.
5)      Metode pengajaran bahasa yang hanya merangsang santriwati untuk bisa menerjemahkan struktur Bahasa Arab yang tersusun dengan aplikasi konsep kaidah bahasa Arab mengakibatkan santriwati hanya memiliki semangat untuk menerjemahkan dan ini akan menimbulkan kepasifan dalam berbicara [13].



6.      Solusi Untuk Mengatasi Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Pembelajaran Muhadatsah (Berbicara Bahasa Arab)
Semua komponen yang ada dalam pondok pesantren tersebut harus bekerja sama dalam mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran muhadatsah. Dengan adanya kendala-kendala tersebut, maka sebagai pendidik sepatutnya mencari solusi untuk mengatasinya.
Dari sisi santriwati, mereka harus meningkatkan motivasi dalam mempelajari muhadatsah agar tujuan pembelajaran bisa tercapai. Begitu juga dengan ustaz/ustazah yang mengajar muhadatsah harus kreatif dan inovatif dalam menggunakan metode dan media yang ada. Dan solusinya antara lain :
1.      Santriwati harus menguasai kosa kata dengan cara memperbanyak hafalan.
2.      Seorang guru bahasa Arab disamping mengajar harus belajar juga agar menjadi guru yang profesional, dan kreatif dalam merangsang santriwati untuk selalu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab
3.      Orientasi pembelajaran bahasa tidak hanya untuk menguasai kaidah bahasa, tetapi lebih diarahkan untuk menguasai komunikasi bahasa Arab (muhadatsah)
4.      Metode yang digunakan harus bisa merangsang santriwati untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab.[14]
G.    METODE PENELITIAN
Sebagai kegiatan ilmiah, maka penelitian ini tidak dapat dipisahkan dengan metode yang akan dipergunakan untuk mengungkapkan fakta-fakta penelitian karena metode penelitian memiliki peran yang sangat penting dalam penelitian. Oleh karena itu, maka dalam kegiatan penelitian ini, peneliti perlu menetapkan metode yang akan dipergunakan. Salah satu faktor keberhasilan penelitian ilmiah adalah kecermatan dalam menggunakan metode penelitian, sehingga dengan demikian hasil-hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
1.      Pendekatan Ilmiah
Dalam penelitian ini sesuai dengan judul dan rumusan masalah yang disusun, setelah mencermati dan memperhatikan data-data yang peneliti peroleh di lapangan lebih banyak bersifat informasi dan keterangan-keterangan yang tentunya hal ini peneliti peroleh melalui kontak langsung secara terus menerus dengan orang-orang yang dibutuhkan informasinya (informan) dalam kontek alamiah. Menurut Najir (1988), pendekatan ilmiah adalah suatu pengejaran  terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Pendekatan ilmiah ini pada dasarnya merupakan gabungan dari aspek-aspek yang paling penting dari pendekatan deduktif dan induktif. Sependapat dengan pernyataan ini, Sukmadinata (2005) menyatakan bahwa pendekatan ilmiah atau pencarian ilmiah adalah suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan dengan  menggunakan metode-metode yang diorganisasikan secara sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi data.
Pendekatan atau metode ilmiah sebagai suatu strategi dalam menemukan kebenaran secara konprehensif, sistematis, dan objektif memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a.       Berdasarkan fakta
b.      Bebas dari prasangka
c.       Menggunakan prinsip-prinsip Analisis
d.      Menggunakan hipotesis
e.       Menggunakan ukuran objektif
f.       Menggunakan tekhnik kuantifikasi. Oleh sebab itu dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.[15]
Bogdan dan taylor mencoba untuk memberikan definisi penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang orang-orang dan prilaku yang dapat diamati, dengan cara lain Kirk dan Miller merumuskan definisi penelitian kualitatif sebagai suatu tradisi dalam ilmu-ilmu sosial yang secara pundamental bergantung pada pengamatan langsung atas manusia dilingkungan hidup mereka yang nyata.[16]
Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, bukan angka-angka. Tulisan hasil penelitian berisi kutipan dari kumpulan data untuk memberikan ilustrasi dan mengisi laporan. Data penelitian mencakup data catatan wawancara, dokumentasi catatan lapangan, dokumen pribadi dan rekaman-rekaman lain. Peneliti berusaha menganalisa data dengan seluruh kekayaan informasi sebagaimana yang diperoleh pada pengumpulan data.

2.      Kehadiran Peneliti.
Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri merupakan instrument kunci, baik dalam pengumpulan  data maupun analisis data. Dengan terlibatnya peneliti secara langsung dalam kehidupan orang-orang yang menjadi obyek penelitian maka peneliti akan dapat mengetahui kejadian-kejadian yang ada secara langsung sehingga tingkat kesalahan data dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai instrument kunci, peneliti sendiri berusaha untuk mencari data sebanyak mungkin dengan mendatangi dan melakukan pengamatan langsung di tempat lokasi penelitian dengan membawa alat-alat yang semestinya diperlukan untuk mendapatkan hasil penelitian di lokasi karena semakin banyak data yang diperoleh maka tingkat kevalidan suatu hasil karya ilmiah semakin tinggi. Oleh sebab itu peneliti berusaha untuk mencari data sebanyak mungkin baik secara lisan, yaitu berupa wawancara atau pertanyaan-pertanyaan yang peneliti ajukan kepada orang-orang tertentu yang dapat dijadikan sample penelitian ataupun secara tulisan yang berupa data-data atau dokumentasi.
Sesuai dengan judul  yang peneliti angkat yakni “PEMBELAJARAN MUHADATSAH DAN PERMASALAHANNYA DI PONDOK PUTRI AL-HALIMY SESELA LOMBOK BARAT TTAHUN PELAJARAN 2010/2011”. Tentu kehadiran peneliti di lokasi penelitian akan sangat erat hubungannya dengan orang-orang tertentu guna untuk mendapatkan data-data yang valid. Santrwati pondok putri al-Halimy, guru pembimbing muhadatsah, ketua pondok, dan Pembina-pembina lainnya.
Adapun data-data yang peneliti butuhkan di lokasi penelitian adalah sebagai berikut :
a.       Data tentang keadaan guru, santriwati, sarana dan prasarana yang ada di lingkungan pondok.
b.      Fasilitas pendukung dan upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kemampuan santriwati berbahasa Arab.

3.      Sumber Data.
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data itu diperoleh[17]. Untuk data-data yang sesuai dengan apa yang  dibutuhkan, maka peneliti memandang perlu untuk menjelaskan sumber-sumber data yang peneliti butuhkan terkait dengan judul penelitian yang peneliti angkat, maka yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah santriwati pondok al-Halimy, adapun untuk mendapatkan data dari subyek (santriwati) penelitian ini tentu sangat membutuhkan orang-orang tertentu yang dijadikan sebagai sumber/responden sehingga data yang diharapkan bisa mengenai sasaran sesuai yang peneliti inginkan. Dalam penelitian ini yang dapat dijadikan sebagai sumber atau responden adalah :
a.       Santriwati pondok putri al-Halimy
b.      Guru muhadatsah (Bahasa Arab)
c.       Ketua Pondok Putri al-Halimy.
d.      Pimpinan Pondok Putri al-Halimy (Tuan Guru)
Adapun data yang peneliti peroleh dari sumber-sumber data diatas adalah :
a.       Proses belajar mengajar khusus pada bidang studi bahasa Arab dalam kaitannya dengan muhadatsah.
b.      Kemampuan santriwati dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab
c.       Kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran muhadatsah.

4.      Prosedur Pengumpulan Data.
Pengumpulan data merupakan bagian yang terpenting dalam suatu penelitian bahkan merupakan suatu komponen yang harus mendapatkan perhatian serius dalam setiap penelitian. Dimana sebelum menganalisa  suatu karya ilmiah tentunya terlebih dahulu mengumpulkan data-data hasil temuannya di lapangan, baru kemudian hasil temuan yang didapatkan di lapangan tersebut peneliti olah sedemikian rupa dengan berdasarkan suatu ketentuan, baru kemudian peneliti dapat menarik suatu kesimpulan.
Menurut hemat peneliti setelah mengkaji data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka peneliti dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa prosedur atau metode pengumpulan data yang sesuai dengan peneliti butuhkan untuk dapat tercapainya data-data yang akurat di lapangan adalah sebagai berikut :
a.       Metode Observasi
Observasi atau disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan sentral  perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung. 
Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian digunakan untuk menyebut jenis observasi, yaitu :
1.      Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrument pengamatan.
2.      Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrument pengamatan.
Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Dalam proses observasi, observasi (pengamat) tinggal memberikan tanda atau tally pada kolom tempat peristiwa muncul. Itulah sebabnya maka cara bekerja seperti ini disebut sistem tanda (sign system)[18]
Jadi, yang dimaksud dengan metode observasi adalah suatu cara atau teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data baik dengan pencatatan atau pengamatan langsung  dengan menggunakan sebuah alat indera. Metode observasi merupakan salah satu  tehnik pengumpulan data yang dalam operasinya peneliti mengamati secara langsung sumber data.  Untuk mendapatkan data atau informasi yang berhubungan dengan letak geogarafis dan sarana-prasarana pondok putri al-Halimy dan proses pembelajaran dilokasi tersebut.
Dari metode ini peneliti dapat mengumpulkan data-data mengenai :
    1. Proses belajar-mengajar di pondok putri al-Halimy pada bidang studi bahasa Arab (muhadatsah).
    2. Fasilitas pendukung dalam upaya meningkatkan kemampuan santriwati berbahasa Arab.
    3. Lembaga pengembangan bahasa Arab
    4. Komunikasi santriwati dalam menggunakan bahasa Arab.
    5. Kendala-kendala yang dihadapi guru bidang studi bahasa Arab dalam proses pembelajaran.
b.      Metode Interview (wawancara)
Selain pengumpulan data dengan cara observasi (pengamatan) peneliti dapat juga memperoleh data dengan menggunakan interview atau wawancara. Dalam hal ini peneliti secara langsung akan memperoleh keterangan dan informasi dari responden atau informan dengan cara tatap muka dan bercakap-cakap secara langsung. Yang dimaksud dengan wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).
Interview dapat dipandang sebagai pengumpulan data dengan jalan Tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penyelidikan. Jadi, metode interview adalah salah satu metode pengumpulan data dengan cara bertatap muka langsung dengan sipenanya dan sipenjawab dengan mengacu kepada suatu panduan wawancara guna terarahnya sesuatu yang diharapkan dari suatu pertanyaan. Dalam menggunakan metode wawancara ini peneliti terlebih dahulu merumuskan hal-hal apa saja yang perlu ditanyakan sebelum peneliti terjun ke lapangan atau dengan kata lain peneliti terlebih dahulu merumuskan garis-garis besar yang perlu ditanyakan kepada responden sebelum peneliti  terjun ke lapangan sehingga dalam mengadakan wawancara di lapangan dapat terarah  dan jelas sesuai dengan tujuan penelitian. Dari metode wawancara ini peneliti dapat menggali keterangan lebih mendalam mengenai data-data yang dibutuhkan, di samping itu juga dapat memperkuat kepercayaan  mengenai hal-hal yang peneliti dapatkan pada waktu mengadakan observasi sehingga data-data tersebut lebih akurat dan dapat dipastikan kebenarannya.
Penggunaan metode interview ini, peneliti berharap untuk dapat mengumpulkan data konkrit selama berada dilokasi dengan bertanya langsung kepada orang-orang tertentu yang dibutuhkan informasinya yang sesuai dengan tujuan  penelitian.
Ditinjau dari segi penelitiannya, interview ini dibedakan menjadi 3 bagian yaitu :
1.   Interview bebas adalah  pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi mengingat akan data yang dikumpulkan
2. Interview terpimpin adalah interview yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa  sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci, seperti yang dimaksud dengan interview struktur
3.      Interview bebas terpimpin adalah kombinasi antara pelaksanaan interview, pewawancara membawa panduan yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang ditanyakan[19]
c.       Metode Dokumentasi
Menurut Suharsimi Arikunto (1992:200) yang dimaksud dengan metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya.
Dari pengertian di atas jelas bahwa yang dimaksud dengan metode dokumentasi  adalah usaha mencari data mengenai hal-hal yang dibutuhkan dalam suatu penelitian baik yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah atau sejenisnya guna memperkuat data-data yang diperoleh serta dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam penelitian ini tentu peneliti tidak terlepas dari metode dokumentasi, dengan metode dokumentasi yang peneliti gunakan, peneliti dapat menggali tentang :
a.       Jumlah tenaga guru di pondok putri al-Halimy
b.      Jumlah santriwati di pondok putri al-Halimy
c.       Sarana-prasarana  yang dimiliki pondok putri al-Halimy.

5.      Analisis Data
Data yang terkumpul selama peneliti melakukan penelitian maka perlu dianalisa dan diinterpretasikan dengan teliti, ulet dan kecakapan sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang obyektif dari suatu penelitian. Bila data dan informasi yang diperoleh itu sudah dianalisa dan di interpretasikan, maka akan diketahui tentang ”Pembelajaran Muhadatsah Dan Permasalahannya Di Pondok Putri Al-Halimy Sesela Lombok Barat”.
Analisa data adalah apabila keseluruhan data sudah terkumpul, langkah yang diambil peneliti adalah mengolah dan membuat analisis terhadap data yang sudah terkumpul itu secara kualitatif. Adapun analisa data merupakan tindak lanjut dari proses data yang merupakan kerja seorang peneliti yang memerlukan penelitian dan pencurahan daya pikir optimal.
Kemudian definisi lain mengemukakan bahwa analisis data adalah sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan ide.
Dengan demikian, data yang terkumpul tersebut dibahasakan, ditafsirkan dan dikumpulkan secara dedukatif sehingga dapat diberikan gambaran yang tepat mengenai hal-hal yang sebenarnya terjadi. Mengingat penelitian ini hanya menampilkan data kualitatif, maka peneliti menggunakan analisa data filosofis atau logika dengan metode analisis induktif.
Guna memperoleh data yang lengkap peneliti lebih dahulu mengumpulkan data, kemudian menganalisa data tersebut dengan prosedur sebagai berikut :
1.    Persiapan dengan usaha yakni :
a. Mengecek kembali sumber data yang diperoleh, apakah dapat              dipertanggungjawabkan atau tidak.
b.   Mengecek kelengkapan data yakni menyatukan data-data yang telah dikumpulkan dari lokasi dan memilih data yang sesuai dengan perencanaan peneliti.
2.   Tabulasi (pengelompokan)
Setelah data dicek dan dikualifikasikan serta disesuaikan dengan data yang diperoleh dari kepustakaan, selanjutnya data tersebut ditabulasikan sesuai dengan fokus penelitian.
3.   Analisa induktif yaitu menganalisa data dengan mengumpulkan data dari yang bersifat khusus untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum.
4.   Analisa deduktif yaitu cara memberikan alasan dengan berfikir dan bertolak dari pernyataan yang bersifat umum dan menarik kesimpulan yang bersifat khusus atau spesifik.
Peneliti menggunakan metode ini untuk mempermudah pengumpulan  hasil observasi, wawancara, kemudian membandingkannya dengan data yang didapat lewat buku-buku referensi guna mendapatkan data yang benar-benar valid.

6.      Kredibilitas / Keabsahan Data
Mengingat penyusunan skripsi ini merupakan karya ilmiah yang harus dipertanggungjawabkan, maka dalam penyusunan dan memperoleh datanya menggunakan metode-metode yang sudah berlaku dalam penyusunan karya ilmiah.
Untuk memperoleh keabsahan temuan-temuan dan informasi dalam hal pencarian data peneliti akan berusaha untuk mengadakan diskusi atau pembahasan dengan teman-teman sejawat yang memiliki pengetahuan tentang masalah yang akan dikaji mengenai data temuan di lapangan.Hal ini dimaksudkan untuk membahas data temuan secara detil dan mendalam.
Sebagai peneliti dalam penelitian kualitatif peneliti akan berusaha memperpanjang kehadiran peneliti di lapangan sebagaimana fungsi peneliti dalam penelitian ini adalah instrument kunci dalam pengumpulan data. Oleh karena itu semakin lama peneliti di lapangan, maka semakin banyak data yang diperoleh sehingga kredibilitas data diharapkan dapat mendekati kebenaran.
Untuk mendukung kredibilitas data, maka tingginya ketekunan peneliti dalam pengamatan sangat dibutuhkan, sehingga semakin tinggi kredibilitas yang diperoleh dan sebaliknya semakin rendah ketekunan peneliti dalam melakukan penelitian maka akan menyebabkan temuan yang diperoleh semakin rendah. Dalam hal ini peneliti mencoba untuk melakukan pengamatan setekun mungkin dengan cara hadir di lokasi penelitian.[20]











BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A.    Profil Pondok Pesantren Al-Halimy Sesela Lombok Barat
1.      Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren  Al-Halimy Sesela Lombok Barat.
Pondok pesantren al-Halimy sebelum diresmikan memang telah memiliki ciri-ciri pondok pesantren sejak tahun 1919 M, pada masa itu TGH. Abdul Halim sudah mulai mengajarkan agama Islam kepada masyarakat, baik masyarakat asli desa Sesela maupun masyarakat luar. Pengajian dilaksanakan dalam bentuk halaqoh, sistem bendongan dan wetonan. Semua sitem itu dilakukan disebuah jajar dan disamping jajar itu didirikan pondok-pondok tempat tinggal para santri yang berasal dari luar desa dan daerah.
37
 
Setelah TGH. Abdul Halim melihat betapa besarnya minat masyarakat terhadap pendidikan agama islam, maka sistem pengajaran di pondok pesantren al-Halimy ditingkatkan menjadi sistem madrasi, terlebih setelah putra beliau TGH. Moh. Anwar (almarhum) dan cucu beliau yang bernama TGH. Ahmad Sanusi (almarhum) kembali ke kampung halaman setelah beliau berdua menyelesaikan studinya di pondok pesantren al-Islahuddiny Kediri. Maka diresmikanlah berdirinya Madrasah Ibtidaiyah (MI) an-Najah pada tanggal 8 nopember 1945.
Setelah beberapa tahun berjalan sejak didirikannya Madrasah Ibtidaiyah, kemudian didirikan pula Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang diresmikan pada tanggal 3 maret 1968 dengan no urut  37/Depag.MTs/III/1968. Perjuangan beliau didalam pendirian Madrasah Tsanawiyah sangat gigih dan penuh semangat. Akan tetapi ditengah-tengah perjuangannya beliau wafat di RSU Mataram Karena menderita penyakit kronis pada tanggal 16 maret 1968 bertepatan dengan tanggal 17 Muharram 1388 H.
Setelah wafatnya, semua kerabat dan penerus beliau mengadakan musyawarah untuk menentukan siapa yang akan meneruskan perjuangannya. Salah satu hasil musyawarah tersebut adalah nama pondok pesantren diberi nama menjadi pondok pesantren al-Halimy untuk mengenang nama perintis pendirinya yaitu TGH. Abdul Halim. Sedangkan nama an-Najah sebagai nama Madrasahnya, karena dengan nama ini diharapkan para santrinya selalu sukses dalam menjalankan kehidupan  baik di dunia maupun di akhirat.
Menurut hasil observasi peneliti, pondok pesantren ini telah mengalami kemajuan dalam berbagai bidang terutama dalam peningkatan sarana dan prasarana demi kelancaran seluruh kegiatan dan acara yang dilaksanakan pondok pesantren ini.
Hal ini dapat terlihat dengan telah dibangunnya berbagai fasilitas seperti ruangan kelas sebanyak 20 lokal dengan ukuran 7,52/M x 11,52/M dan aula dengan ukuran 30,07/M x 21,07/M yang dapat digunakan oleh para santri untuk pengajian ataupun oleh pihak pondok pesantren sendiri dalam mengadakan pertemuan-pertemuan ataupun kegiatan lainnya yang membutuhkan tempat yang agak luas.
Ruangan tersebut digunakan sebagai tempat penyelenggaraan belajar mengajar baik pelajaran umum ataupun agama dengan sistem klasikal yang diajarkan oleh para asatiz. Selain itu para santri juga diajarkan dengan sistem halaqoh yang diasuh oleh masing-masing pengasuh yang memusatkan kegiatannya di tempat tinggal para pengasuh sendiri, hal ini dapat diuraikan sebagai berikut :
a)      Rumah TGH. Moh. Ridwan sebagai lokasi pondok putri (obyek yang diambil peneliti sebagai lokasi penelitian)
b)      Rumah TGH. Ahmad Sanusi (almarhum) sebagai lokasi pondok putra
c)      Pondok Khusus Al-Halimy, salah satu tempat yang berlokasi di tengah-tengah persawahan sebagai tempat para santri untuk belajar khusus keagamaan dan kitab-kitab kuning.
d)     Sebuah Jajar di tempat tinggal TGH. Ahmad Subki
e)      Sebuah Jajar di tempat tinggal TGH. Jalaluddin
f)       Sebuah jajar di tempat tinggal TGH. Munajib Kholid
g)      Sebuah Jajar di tempat tinggal TGH. Moh. Rosyidi.
h)      Sebuah Jajar di tempat tinggal TGH. Suhaeli
Tempat tinggal seluruh pengasuh tersebut dipenuhi dengan kegiatan pengajian yang dimulai dari pagi sampai malam hari, akan tetapi setiap pengajian biasanya dilaksanakan setelah selesai solat lima waktu. Disamping mengajar di tempat tinggal mereka, para tuan guru juga memberikan pengajian keliling kepada masyarakat yang mengundangnya atau sesuai dengan jadwal yang telah disepakati oleh para jamaah pengajian dengan para tuan guru.[21]

2.      Letak Geografis Pondok Putri Al-Halimy
Yang dimaksud dengan letak geografis disini adalah gambaran umum letak  (lokasi) dari lingkungan pondok putri al-Halimy. Letak geografis pondok putri al-Halimy cukup strategis, hal ini dikarenakan lokasinya mudah dijangkau oleh jalur transportasi, sehingga memudahkan para santriwati yang belajar dan masyarakat secara umum.
Adapun letak geografis yang strategis ini mampu meningkatkan perkembangan dan kemajuan pondok pesantren ini dari tahun ketahun, hal ini terlihat dari kemajuan yang dicapai, dan terlihat juga dari santri yang kian tahun kian bertambah, bangunan yang semula 2 lokal kini menjadi 11 lokal serta dapat terbukti pula dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan.
Di lombok barat  nama pondok pesantren al-Halimy (pondok putri) sudah tidak asing lagi didengar di kalangan masyarakat, Kemasyhuran pondok pesantren al-Halimy (pondok putri) ini tak terlepas dari program-program pendidikan yang diterapkannya, baik yang formal maupun nonformal dan terlebih lagi dengan diterapkannya bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi santriwati sehari-hari.
Pondok putri al-Halimy merupakan salah satu pondok pesantren yang ada di kecamatan Gunung Sari kabupaten Lombok Barat yang terletak di desa Sesela dusun Kebun Indah. Adapun luas pondok putri ini adalah 12 are dengan bangunan sebanyak 11 lokal dengan musolla di tengahnya sekaligus menjadi aula dan tempat belajar santriwati, sering juga digunakan sebagai tempat mudzakarah para santriwati serta acara – acara keagamaan yang berhubungan dengan masalah pondok.
Adapun batas-batas pondok putri al-Halimy adalah sebagai berikut:
a)      Sebelah utara         :  Rumah penduduk
b)      Sebelah selatan      :  Yayasan pendidikan pondok pesantren al-Halimy (madrasah)
c)      Sebelah timur        :  Masjid jami’ dusun Kebun Indah
d)     Sebelah Barat        :  Pertokoan (pusat perbelanjaan masyarakat) dan rumah penduduk[22]

3.      Struktur Organisasi  Pondok Putri Al-Halimy sesela Lombok Barat
Untuk terarahnya suatu tujuan pendidikan maka keorganisasian suatu lembaga sangatlah penting agar masing – masing orang mengetahui tugas dan tanggungjawabnya sehingga pekerjaan dan tugas yang diembannya dapat dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab.
 Adapun keorganisasian pondok putri pondok pesantren al-Halimy tahun pelajaran 2010/2011 sebagai berikut :
STRUKTUR PENGURUS PONDOK PUTRI PONDOK PESANTREN AL-HALIMY








SANTRI
 
 
















Keterangan:
·         Garis Horizontal    = Rekan Kerja
·         Garis Vertikal        = Hirarki Kepemimpinan
4.      Keadaan Guru Di Pondok Putri al-Halimy Sesela Lombok Barat
Pondok putri pondok pesantren al-Halimy sangat menyadari pentingnya guru (ustaz/ustazah) dalam proses pendidikan, kehadiran guru dalam proses belajar mengajar masih tetap memegang peranan penting yaitu sebagai pendidik dan pembimbing. Oleh karena itu peran guru (ustaz/ustazah) dalam proses belajar mengajar tidak dapat diganti oleh alat-alat elektronik sekalipun diimbangi dengan kemajuan iptek dewasa ini terlebih lagi dalam pembelajaran bahasa Arab, tentu apa yang diperagakan dan diucapkan  guru (ustaz/ustazah) akan sangat membantu santriwati dalam menyerap apa yang disampaikan guru (ustaz/ustazah).
Adapun dari data yang peneliti peroleh dalam melaksanakan penelitian di lapangan bahwa yang menjadi guru (ustaz/ustazah) di pondok putri pondok pesantren al-Halimy tahun pelajaran 2010/2011 sebanyak 18 orang , adapun nama, bidang studi yang diajarkan dan pendidikan terakhir masing-masing guru tercantum dalam tabel berikut :[23]
NO
NAMA GURU
PENDIDIKAN TERAKHIR
BIDANG STUDI YANG DIAJAR
1
TGH. Ridwan Anwar

Tafsir Jalalain
2
TGH. Munajib Kholid
S1
Tafsir Jalalain
3
TGH. Jalaluddin

Nahwu dan fiqh
4
TGH. Suhaeli, BA
S1
Akhlak dan hadits
5
Ust. Mu’allif, M.Pd
S2
Retorika dakwah
6
Ust. Hilwani, LC, M.Pd.I
S2
Bahasa Arab
7
Ust.H. Islahuddin, M.Pd.I
S2
Bahasa Arab
8
Ust. H. Humaedi, S.Pd.I
S1
Nahwu dan fiqh
9
Ust. Husni Anwar, S.Pd.I
S1
al-Qur’an
10
Ust. Haulani Anwar, S.Sos.I
S1
Nahwu
11
Ust. Burhanuddin Anwar

al-Qur’an
12
Ust. Muzaffar, S.Pd.I
S1
Khot / kaligrafi
13
Ust. Abdurrahman, S.Pd.I
S1
Tajwid
14
Ust.Rahmat

Nahwu
15
Ustz. Hj. Hikmah, S.Pd.I
S1
Akhlak
16
Ustz. Marhamah,S.Pd.I
S1
Bahasa Inggris
17
Ustz. Rohaturrubaiyyah,S.Pd.I
S1
Bahasa Inggris
18
Ust.Mashul

Khulasoh / sejarah

5.      Keadaan Santriwati Di Pondok Putri Pondok Pesantren al-Halimy Sesela Lombok Barat
Santriwati merupakan obyek penting dari sebuah pendidikan, begitu pentingnya siswa dalam pendidikan sehingga ada aliran pendidikan yang menempatkan siswa/siswi sebagai pusat segala usaha pedidikan. Adapun jumlah santriwati di pondok putri al-Halimy tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagaimana tercantum dalam tabel berikut :[24]

NO
KELAS
JUMLAH SANTRI
KETERANGAN
1
 MTs
26 Orang
Perempuan
2
 MTs
20 Orang
Perempuan
3
 MTs
15 Orang
Perempuan
4
 MA
17 Orang
Perempuan
5
 MA
17 Orang
Perempuan
6
 MA
18 Orang
Perempuan
7
Ma’had Ali
10 Orang
Perempuan
            Jumlah
123 Orang
Perempuan

6.      Sarana Dan Prasarana Yang Ada Di Pondok Putri al-Halimy  Sesela Lombok Barat
Proses belajar mengajar merupakan inti dari sebuah pendidikan di sekolah ataupun dimana saja. Dalam proses belajar mengajar harus ada guru dan murid, namun tanpa dilengkapi dengan sarana dan prasarana  yang ada tentu kegiatan belajar mengajar tidak bisa berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang diinginkan. Oleh karena itu tersedianya sarana dan prasarana sangat mendukung terciptanya  proses belajar mengajar sehingga apa yang dicita-citaka dapat terwujud.
Pondok putri Pondok pesantren al-Halimy dalam menunjang terlaksananya proses belajar mengajar yang baik dan efektif tidak terlepas dari sarana dan prasarana yang dimiliki. Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki tertera dalam tabel berikut :[25]
NO
Nama
Jumlah
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7

8

9

10

11

12


Ruang tidur bagi santri
Ruang belajar

Musolla

Perpustakaan

Ruang Guru

Ruang Tata Usaha

Lemari Kantor

Meja Kantor

Meja Ketua Pembina

Tempat tamu (berugak)

Papan tulis

Komputer
10
6
1
1
1
1
3
4
1
2
6
2
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

B.     Pelaksanaan Pembelajaran Muhadatsah (Berbicara Bahasa Arab) Di Pondok Putri al-Halimy Sesela Lombok Barat
Pondok putri pondok pesantren al-Halimy merupakan salah satu  pondok pesantren yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, hal ini tampak dari kehidupan sehari-hari santriwati di mana dalam percakapan mereka  menggunakan bahasa Arab.
Pembelajaran bahasa Arab di Pondok putri al-Halimy selain bertujuan untuk dapat memahami kitab-kitab berbahasa Arab juga diharapkan santriwati pondok putri al-Halimy mampu menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.
Sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut berpengaruh juga kepada sistem pembelajaran yang ada, sistem pembelajaran bahasa Arab yang diterapkan adalah menggunakan sistem pembelajaran muhadatsah, hal ini sebagaimana yang telah disampaikan ketua/Pembina pondok.[26]
Pembelajaran muhadatsah di Pondok putri al-Halimy dilaksanakan 3 kali dalam seminggu dimasing-masing kelas, pelajaran muhadatsah ini lebih berorientasi pada kemampuan santriwati berbahasa sehingga sistem pengajarannyapun disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu santriwati mampu menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa percakapan sehari-hari mereka.
Berbagai macam tehnik yang diterapkan dalam pembelajaran muhadatsah di pondok putri al-Halimy sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan salah seorang guru bahasa Arab, tehnik-tehnik tersebut antara lain:
1)      Melatih santriwati mendengarkan dan mengucapkan bunyi-bunyi kalimat yang baru berulang kali sampai santriwati betul-betul bisa mengucapkan dengan baik dan benar.
2)      Dengan cara memberikan contoh kalimat yang sempurna dalam bentuk dialog kemudian diusahakan supaya santriwati dapat menghafal dengan baik dan benar baru kemudian dipraktekkan didepan kelas secara bergiliran sampai semua santriwati mendapat giliran dan ustaz sambil memperbaiki kata-kata yang salah.
3)      Meminta santriwati satu persatu bercerita seputar aktifitas kesehariannya di depan teman-temannya secara bergiliran atau bisa juga dengan cara menampilkan gambar kemudian meminta santriwati  untuk bercerita seputar gambar yang ada walaupun dengan bahasa sederhana.[27]
Adapun metode pembelajaran bahasa Arab yang diterapkan di pondok putri al-Halimy sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan beberapa tenaga pengajar bahasa Arab dapat peneliti simpulkan antara lain:
1)      Toriqoh mubasyaroh merupakan metode yang berorientasi menjadikan santriwati memiliki kemampuan dalam berfikir dengan bahasa sasaran yaitu (bahasa Arab) baik dalam berbicara, dalam membaca maupun dalam menulis.
Metode ini disebut juga metode langsung karena selama pelajaran berlangsung, pengajar langsung menggunakan bahasa asing yang diajarkan, sedangkan bahasa pelajar sedapat mungkin tidak boleh digunakan. Untuk menjelaskan suatu kata atau kalimat digunakan gambar-gambar atau peraga.
2)      Toriqoh sam’iyyah syafawiyyah, metode ini merupakan metode yang berupaya bagaimana menguasai bahasa secara aktif. Metode ini juga sering kali disebut Informan-The rill method, karena latihan-latihannya dilakukan selain oleh pelajar juga oleh informan penutur asli. Menurut metode ini, kegiatan belajar berupa demonstrasi dan latihan struktur kalimat, latihan ucapan, dan latihan menggunakan kosa kata dengan mengikuti atau menirukan ustaz dan informan penutur asli.
3)      Toriqoh intiqoiyyah, metode ini adalah cara mengajar dengan menggunakan gabungan dari unsur - unsur yang terdapat dalam metode langsung dan metode gramatika terjemah. Kemahiran berbahasa dianjurkan menurut urutan - urutan sebagai berikut : Bercakap-cakap, menulis, memahami, dan membaca. Kegiatan yang lain dalam kelas berupa latihan lisan, membaca dengan keras dan tanya jawab. Juga latihan menerjemahkan, pelajaran tata bahasa deduktif, dan digunakan juga alat - alat peraga yang bisa didengar dan dilihat.

1 komentar: